LIHAT, TUHAN SUDAH MULAI MURKA…
February 7, 2009
Dengan melihat keadaan disekitar kita sekarang yang penuh dengan masalah, apakah judul tersebut salah bila ditujukan untuk kita semua? Mulai dari konflik antar sesama, kompetisi dalam mendapatkan atau lebih tepatnya memperebutkan harta dan kedudukan, serta bencana alam yang belakangan ini sudah sering kali terjadi.
Apakah kita tidak menyadari bahwa apa yang terjadi saat ini adalah karena salah dan ulah kita sendiri? Lihat disekitar kita. Membunuh sesama dengan segala cara termasuk yang belakangan ini terjadi yaitu peledakan di Palestina. Hanya karena rasa kecemburuan, ketidaksenangan dan apapun itulah yang sudah membutakan mata batin mereka. Masalah lain, masalah pejabat atas harta dan kedudukan pangkat seseorang, mereka mau bahkan bersedia untuk membuat rugi orang lain kehilangan tempat tinggal. Tempat yang seharusnya menjadi hak mereka juga. Terakhir, bencana alam yang terjadi di bumi ini. Beberapa tahun lalu gempa bumi bencana besar yang meluluhlantakkan berbagai daerah. Termasuk D.I Aceh dan D.I Yogyakarta. Lalu, lumpur Lapindo yang hingga saat ini masih dan telah menelan beberapa daerah sehingga penduduk setempat kehilangan tempat tinggal. Dan sekarang banjir telah terjadi dimana-mana.
Apakah kita tahu apa penyebabnya? Jangan hanya bisa menyalahkan pemerintah yang mereka pikir selalu tidak mempedulikan kesejahteraan masyarakat. Walaupun mungkin sesekali mereka pernah bertindak ke luar jalurnya. Namun lihatlah pada diri kita sendiri. Apa kita sudah melakukan yang tebaik untuk negeri ini? Apa kita sudah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan? Sebagai contoh yang mudah dilihat, sampah dimana-mana hingga bertebaran di pinggir jalan yang membuat jalan tidak enak dipandang lagi, di taman kota yang menghambat tanah dalam penyerapan air dan lebih-lebih banyak sampah di selokan yang nantinya hanya membuat sungai menjadi penuh dengan sampah dan tak mampu lagi mengalirkan air ke tempat yang sudah disediakan. Bahkan saat ini banyak hutan-hutan yang ditebang secara liar, sehingga tidak ada tempat lagi untuk menjadi paru-paru bumi. Kalau kita mau berpikir sedikit saja, kemana kayu-kayu itu pergi? Untuk kepentingan seseorangkah? Suatu perusahaan kah? Yang hanya memikirkan kesejahteraan dirinya sendiri. Lalu menjadi tempat apakah bekas hutan-hutan itu? Pemukiman real estate? Gedung-gedung tinggi? Betapa picik sekali pikiran mereka. Mereka tidak memikirkan dampak yang akan terjadi nanti.
“Semakin tua semakin rakus”. Mungkin itu kata yang tepat bagi kita semua. Jangankan kita memikirkan hal yang sejauh itu. Dari hal kecil saja. Tambah tua, kita sebagai manusia juga membutuhkan makan yang lebih banyak dan sebagainya. Untuk melihat hal yang sama namun dalam skala besar adalah apa yang telah dikemukakan tadi sebelumnya.
Kita semua, tentunya menginginkan kesejahteraan. Baik untuk kita sebagai masyarakat bangsa ini maupun untuk negara. Namun alangkah baiknya apabila kita melakukannya dengan cara yang baik pula. Kita selalu memimpikan dan menginginkan hal yang besar. Tapi kita tidak pernah memikirkan sedikitpun dari hal yang kecil. Yang dimana hal itu lebih penting dan berharga lebih dari apapun.
Membantu sesama yang kurang mampu. Banyak sekali orang diluar sana yang masih belum beruntung dari kita. Tapi apakah kita masih mau peduli? Mereka orang-orang yang ada di pinggir jalan, apa pantas mendapatkan kehidupan yang seperti itu? Tentunya kita masih mengharapkan kehidupan yang lebih layak daripada itu semua bagi mereka. Apalagi banyak anak dan remaja, para generasi muda penerus bangsa, yang mendominasi tempat tersebut. Seperti itukah penerus bangsa kita? Lihat pula para rakyat miskin yang masih butuh uluran tangan kita, yang (dapat dibilang) masih mampu menyambung hidup secara baik. Jangankan mereka berpikir darimana mereka akan dapatkan sesuap nasi, rumah saja mereka tak punya. Tak ada tempat untuk mereka singgahi. Bahkan ladang pekerjaanpun tak ada tempat untuk mereka. Mungkin saja ada beberapa dari mereka yang bekerja sebagai petani. Namun sekarang banyak sawah yang diganti menjadi tempat berbisnis dan perumahan. Pernahkah kita berpikir bahwa kita dapat memakan sesuap nasi juga karena mereka? Tidak hanya tata kota saja yang memakan lahan sawah yang sudah mengambil hak mereka untuk bekerja. Tapi juga bencana alam yang saat ini telah memupuskan harapan mereka untuk memanen padi. Tegakah kita melihat sesama memiliki kehidupan yang seperi itu? Kurang beruntung apa kita sebagai orang yang mampu? Tidak malukah kita pada mereka? Mereka butuh perjuangan yang berat untuk mencari dan melakukan pekerjaannya. Tapi kita dengan seenaknya menghilangkan lahan pekerjaan dan rejeki mereka. Padahal kita masih membutuhkan bantuan mereka untuk memanen beras yang nantinya kita makan juga. Sadarkah kita yang telah memperlakukan mereka seperti itu?
Belakangan juga terjadi perebutan hak milik kebudayaan. Kita kah yang salah? Atau mereka yang telah merebutnya? Walaupun kita tahu bahwa kebudayaan itu sudah tidak asing lagi di negeri ini. Namun apa sulitnya bagi kita untuk mempertahankan sesuatu yang dari zaman dahulu memang menjadi hak milik kita? Lalu mau dijadikan seperti apa negeri ini? Dengan kebudayaan sendiri saja kita sudah acuh dan tidak peduli. Kebudayaan yang begitu berharga bagi bangsa ini.
Itulah yang dimaksud dengan menginginkan yang besar tanpa memikirkan sesuatu yang kecil namun begitu berharga.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya”
Apakah kata-kata itu masih berlaku di negeri ini? Kita tentu meragukannya setelah apa yang terjadi. Kita tidak bisa mempertahankan nilai-nilai yang telah tertanam sejak zaman dahulu. Kerja keras, pengorbanan, dan lainnya. Kita bahkan generasi muda saat ini selalu menginginkan sesuatu dengan cara yang praktis. Berpikirkah kita seperti apa pahlawan kita dahulu memperebutkan dan mempertahankan bangsa ini dari negara asing, bangsa penjajah?
Pada era globalisasi sekarang ini tentunya kita menginginkan negara ini menjadi negara yang maju. Yang mampu bersaing dengan negara-negara lain. Tapi sadarkah kita, bahwa negeri ini sudah mulai dijajah kembali secara perlahan-lahan dengan bangsa asing? Kemanapun kita pergi pasti banyak melihat turis asing yang berdomisili ke negeri ini. Hanya untuk mengembangkan diri mereka. Bahkan mereka juga rela jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mempelajari kebudayaan yang kita miliki. Mereka saja mau peduli kepada budaya kita, mengapa kita sendiri tidak ada rasa memiliki dengan bangsa ini?
Di negeri kita saja juga banyak menghasilkan orang-orang yang sukses. Tapi mengapa mereka tidak mengembangkan dirinya di negeri ini? Mengapa mereka tidak menularkan keahlian mereka pada penerus bangsa ini? Sedangkan banyak remaja saat ini yang hanya mengisi waktunya dengan bersenang-senang. Menghamburkan uang untuk sesuatu yang tak ada manfaatnya. Menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang tak berguna. Dan tentunya banyak remaja yang tidak menanamkan nilai-nilai luhur pada diri mereka sendiri. Di saat etika sudah dipandang tidak ada manfaatnya dan rasa nasionalisme yang begitu tak berarti bagi mereka. Mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Tanpa memikirkan tanggungjawabnya sebagai penerus bangsa. Sehingga lunturlah sudah moral bangsa ini.
Sebenarnya apa yang kita inginkan saat ini? Sedangkan banyak sekali masalah yang terjadi di negeri ini? Apa lagi?
Jangankan kita yang sadar akan kehancuran negeri ini menangis. Bahkan Tuhan pun mungkin sudah mulai kecewa dengan tingkah laku kita. Hingga Dia murka. Dan memberikan banyak cobaan kepada kita. Yang dimana Dia hanya menguji kita, apakah kita mampu menyelesaikan masalah-masalah yang banyak terjadi belakangan ini. Dan Dia ingin tahu seberapa besar kepedulian kita terhadap sesama dan bangsa yang sudah menjadi kuasa-Nya. Tentunya sampai detik ini kita tetap berpikir bahwa Tuhan masih sayang pada kita semua. Tapi seperti inikah perlakuan kita terhadap-Nya? Menghancurkan apa yang telah diciptakan-Nya? Memusnahkan apa yang telah diciptakan-Nya? Mengingkari apa yang telah menjadi kehendak-Nya? Jika kita ingin tahu dan mengerti, apa yang sedang dirasakan Tuhan saat ini? Jangan hanya egois memikirkan diri kita sendiri….
Bobroknya Moral Generasi Muda Saat Ini
February 7, 2009
Dewasa ini kita melihat banyak sekali terjadi perkelahian dibeberapa daerah. Perkelahian yang dipicu oleh mahasiswa dengan warga sekitar dan juga aparat keamanan. Hal tersebut disebabkan oleh karena menurunnya moral mahasiswa, para generasi muda penerus bangsa.
Sebagai penerus bangsa seharusnya mahasiswa dapat membawa dampak yang baik serta membantu kemajuan bagi bangsa ini. Karena mahasiswa adalah manusia yang terpelajar dan terdidik. Yang seharusnya mampu memberikan contoh yang baik bagi lingkungan sekitar.
Dengan menurunnya moral generasi muda saat ini, mereka bagai ditutup kedua mata dan telinganya. Memang, dengan umur mereka yang terbilang relative muda, jiwa mereka masih labil dan cenderung lebih emosional. Tapi apakah dengan cara tersebut dapat dan telah menyelesaikan masalah dengan baik? Mahasiswa yang terdidik, terpelajar dan mempunyai moral yang baik, dapat kita pastikan mereka juga dapat menyelesaikan masalahnya dengan pikiran yang dewasa dan sikap yang bijaksana.
Apakah ini sudah mencerminkan bobroknya moral dalam diri generasi muda khususnya mahasiswa jaman sekarang? Bangku perkuliahan hanyalah merupakan sebuah formalitas semata. Dan sebagian dari mereka mungkin juga menganggap bahwa moral dan etika kini telah sirna. Mereka tidak peduli apa yang akan terjadi jika mereka melakukan sesuatu yang meresahkan masyarakat sekitar. Termasuk perkelahian tersebut yang tanpa mereka sadari telah merenggut beberapa nyawa.
Belum lagi belakangan ini kita sempat melihat adanya peristiwa yang merenggut Ketua DPR Sumatera Utara. Berbagai umpatan sempat keluar dari mulut ini ketika menyaksikan aksi brutal mereka. Apa sih yang mereka mau? Suara dan aspirasi mereka didengarkan? Tapi kenapa mereka justru mebuat keadaan semakin bertambah rumit. Tidak bisakah kalian mengutarakan apa yang kalian inginkan dengan cara yang baik-baik? Jika kalian benar-benar ingin berkelahi, beranikah kalian jika maju satu persatu dan tidak keroyokan?Aku tidak ingin mengatakan, siapa yang salah siapa yang benar. Karena aku juga bukanlah orang yang sempurna.
Tuhan, aku tak tahu lagi mau menjadi seperti apa bangsa ini, kalau penerus bangsanya saja bersikap seperti itu? Jika isi negara ini hanya orang-orang semacam itu? Karena menurutku manusia (mahasiswa) yang terpelajar dan terhormat, mampu dapat menyelesaikan segala permasalahannya dengan cara yang terpelajar dan terhormat pula.
Hazelnut Latte..
February 7, 2009
Malam ini, aku pergi bersama seorang temanku yang datang dari kota seberang. Pertemuan yang jarang kami temui membuat kami untuk memutuskan untuk singgah disebuah tempat yang lebih tepatnya disebut dengan café. Sekedar untuk berbagi cerita tentang apapun yang telah kami alami.
Hazelnut latte. Sebuah minuman kopi yang ku pesan. Tak biasanya aku memesan minuman yang masih beraromakan kopi. Semua nama jenis kopi yang tertera dalam menu selalu aku hindari. Namun ada satu alasan mengapa aku ingin memesan dan meminum minuman kopi malam ini. ‘Setiap pergi dan nongkrong disuatu café, seseorang yang pernah aku cintai selalu meminum minuman yang masih berbasic coffee. Entah Vanilla latte, kopi Sumatera dan masih banyak jenis kopi lainnya yang ia pesan. Salah satunya yang sering ia pesan adalah Hazelnut latte. Sehingga aku sudah hafal diluar kepala dengan kebiasaannya itu. Bahkan tak hanya menu itu yang selalu ia pesan. Aku masih ingat dan hafal bagaimana dia mengaduk campuran yang ada pada Hazelnut latte dengan perlahan-lahan dan penuh hati-hati, aku masih ingat apa saja yang selalu kami katakan ketika dia akan mengaduknya, aku masih ingat semua itu’.
Sedangkan aku, aku selalu memesan minuman yang berbasic tea. Semua jenis teh yang ada di café tempat kami singgah (sebagian besar) pernah aku coba. Karena aku punya cerita tersendiri mengapa aku sudah berhenti mengkonsumsi kopi lagi.
Namun semua kebiasaan itu telah hilang semenjak dia juga turut menghilang dari kehidupanku. Aku tak pernah lagi mendapati ia untuk meminum segelas kopi bersamaku. Malam ini, aku sengaja memesan Hazelnut latte untuk mengenangnya. Hanya sekedar dengan Hazelnut latte aku bisa menumpahkan rasa rinduku padanya.
Lindungi Satwa Langka di Indonesia
February 7, 2009
Indonesia memiliki begitu banyak keanekaragaman. Termasuk salah satunya adalah hewan. Disini saya ingin membahas tentas Penangkaran Buaya yang terdapat di Balikpapan.
Beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung ke Penangkaran Buaya yang masih didalam kawasan provinsi Balikpapan. Saya melihat begitu banyak jenis/macam yang ada disana. Mulai dari yang kecil sampai yang besar sekalipun terdapat pada setiap kandang yang ada dalam penangkaran tersebut.
Memang, pernah terbesit rasa ngeri ketika melihatnya. Namun lebih dari itu semua saya menyadari betapa agungnya ciptaanNya. Ciptaan yang tiada bandingannya. Ketika mengamati beberapa ekor buaya yang sangat besar sekali disana, saya membayangkan ‘Mungkin perut buaya itu sanggup menelan utuh manusia yang (bisa saja) tak dapat berkutik ketika dicengkram oleh mereka’. Saya membayangkan hal tersebut karena buaya-buaya itu sungguh sangat besar dari yang pernah saya jumpai.
Maha Dahsyat ciptaanMu, Ya Allah. Saya harap, kita sebagai makhlukNya juga dapat ikut menjaga dan melestarikan keberadaan buaya tersebut. Jangan sampai satwa di Indonesia mulai punah hanya karena ulah kita sendiri.
Sekalipun mengerikan namun buaya-buaya itu mempunyai hak juga untuk hidup dan wajib untuk kita lindungi.
(Foto menyusul)
Tak semestinya…
February 5, 2009
Pagi ini aku membaca sebuah surat kabar. Salah satu berita yang menarik perhatianku adalah mengenai bocah berusia lima tahun yang sedang mengidap penyakit kanker rahim. Karena umurnya yang masih muda, pihak rumah sakit memutuskan untuk tidak mengoperasi rahim tersebut. Sehingga bocah itu harus menjalani kemoterapi sekitar lebih kurang dua tahun.
Melihat kejadian tersebut, aku berniat hari ini juga ingin menjenguknya. Melihat kondisi anak tersebut dan memberi bantuan yang tak seberapa untuk pengobatan bocah itu.
Tuhan meridhoi niatku. Siang tadi aku pergi ke rumah sakit. Niatku sudah bulat. Tekadku sudah mantab. Dengan langkah yang pasti aku mencari dimana bocah itu dirawat.
Setibanya aku disana, aku melihat seorang anak yang masih sangat lugu itu terdiam diatas ranjangnya. Tak banyak rambut yang tumbuh dikepalanya akibat kemoterapi yang sedang dijalaninya. Tubuh anak itu sangat kecil. Kecil untuk ukuran anak seusianya. Seketika aku ingin meneteskan air mata. Tak sanggup melihat derita yang sedang ditanggungnya.
Disitu aku juga bertemu dengan orang tuanya. Orang tuanya yang akan selalu menemani bocah itu dengan sabar. Kami berbincang-bincang mengenai penyakit yang sedang dialami oleh buah cinta mereka. Disela-sela pembicaraan kami, aku memberikan sebuah boneka untuk anak itu. Berharap boneka dapat menemani kesehariannya dan tidak mengurangi keceriaan diusianya yang masih belia ini. Beberapa kali aku ingin selalu menitikkan air mata. Melihat kenyataan yang sungguh sangat miris dihadapanku. Betapa bersyukurnya aku yang masih diberi kesehatan oleh Mu, Ya Allah.
Penyakit ini merupakan penyakit yang tidak lazim untuk anak seusianya. Penyakit ini biasanya diderita oleh wanita yang telah dewasa/ yang sudah pernah melahirkan. Tapi entah apa yang dikehendaki oleh Tuhan, sehingga penyakit bisa turun untuk bocah yang masih lugu ini.
Ya Allah, jika aku boleh meminta, sembuhkanlah dia. Dia hanyalah seorang gadis cilik yang masih belum tahu apa-apa. Yang masih belum siap menerima cobaan seberat yang Engkau berikan kepadanya saat ini. Berikanlah kesempatan kepadanya untuk menikmati masa kecilnya. Agar dia dapat tumbuh seperti anak-anak seusianya. Yang dapat merasakan indahnya dunia.
Aku tahu semua ini akan berjalan sesuai dengan kehendakMu. Tapi menurutku penyakit ini tak semestinya ada dalam diri bocah kecil itu. Walaupun aku belum tahu seperti apa rasanya, tapi aku dapat melihat derita itu dari matanya. Tak semestinya dia mendapatka cobaan seberat ini dariMu, Ya Allah.
Aku akan selalu berdoa untuk bocah itu. Untuk kesembuhannya. Untuk masa depannya. Dia berhak mendapatkan kebahagian di dunia ini. Dia berhak merasakan keceriaan, kebahagiaan dan kebebasan dari penyakit itu seperti anak-anak yang lainnya.
Aku yakin, dia bisa sembuh. Aku tahu dibalik derita itu, aku melihat ada seberkas cahaya harapan disorot matanya. Dia bisa dan akan sembuh. Aku percaya, Engkau juga masih menyayanginya dan akan memberikan kesempatan padanya untuk hidup.
Penuh harapan untuk kesembuhan bocah kecil itu yang sedang mengidap kanker rahim. Semoga Engkau mengabulkan dan meridhoi apa yang menjadi permohonanku. Amin.
Edisi bingung kali iniii
January 25, 2009
Bingung…bingung…bingung…mw nulis apaaaa…bentar yaaa…ntar kalo da tau lagi apa yanbg mw aku tulis…aku pasti akan kembali;)…
Mulut kecil itu…
January 11, 2009
Aku Hanya Ingin Mendengarkan
January 10, 2009
Mendengarkan semua yang kamu katakan. Mendengarkan saat kamu sedih dan menangis. Sehingga aku akan membuatmu bisa merasa lega dan (setidaknya) meringankan beban dirimu sendiri. Mendengarkan saat kamu berkeluh kesah. Tak tahu jalan mana yang kamu pilih dan kamu tempuh untuk masa depanmu. Sehingga aku akan membantumu untuk mencari jalan keluarnya dan membuatmu merasa tenang kembali dalam menata jalan dihidupmu. Mendengarkan saat dirimu dikhianati. Sehingga aku akan meyakinkanmu bahwa saat itu adalah saat yang tepat utnuk membuktikan dirimu. Bahwa dirimu adalah seseorang yang kuat, yang tangguh. Yang tak akan roboh oleh suatu apapun. Karena tanpa dirinya pun, masih banyak teman dan kerabat yang menyayangimu. Terutama Tuhan masih akan selalu ada untukmu. Mendengarkan saat dirimu tersakiti dan terluka. Sehingga aku akan berusaha menyembuhan luka itu dan tak akan pernah sekalipun membukanya. Mendengarkan saat dirimu merasakan patah hati. Sehingga aku akan mengatakan yang sesungguhnya bahwa manusia tidaka ada yang sempurna. Segala kekurangan dan kelebihannya harus kita terima dengan lapang dada. Mendengarkan saat dirimu ditinggalkan. Sehingga aku akan membuatmu percaya bahwa didunia ini tidak ada yang abadi. Mendengarkan saat dirimu tidak sabar menemukan dan mendapatkan sesuatu yang baru. Sehingga aku meyakinkanmu bahwa semua hanya butuh waktu. Namun, hanya satu yang aku pinta darimu. Ceritalah saat dirimu bahagia. Sehingga aku juga akan turut bahagia atasmu….
Antara Percaya dan Tidak Percaya
January 10, 2009
Namun seiring berjalannya waktu, aku yang menganggap itu adalah kenyataan, semua berubah hanya menjadi sebuah omongan. Omong kosong dari mulut seorang pria (yang notabene semua laki-laki ternyata sama saja). Apa yang pernah dia tunjukkan padaku kini telah sirna. Kini semua hanyalah kenangan. Kenangan pahit untukku karenanya. Kenangan yang tak pantas diberikan tempat yang layak dalam bilik-bilik dihatiku. Kenangan yang seharusnya tidak ada dan tidak singgah dalam hidupku.
Entah apa yang ku rasakan. Entah apa yang ku pikirkan. Entah mana yang harus ku percayai. Melihat keadaan seperti sekarang ini, aku sempat tidak percaya kalau dulu dia sangat menyayangiku, membutuhkanku bahkan ingin meminangku. Namun mengingat kala itu dia menjadi orang yang sangat ku percayai. Sikapnya kepadaku membuatku percaya akan ketulusan hatinya.
Tapi kini dia telah tiada dihadapanku. Dia seolah benar-benar ingin melupakanku. Dia ingin pergi dari hidupku. Dia ingin melupakanku dan semua kenangan yang ada diantara kita berdua. Itulah beberapa sikap yang dia tunjukkan padaku saat ini. Sikap yang (aku pikir) tidak semestinya aku terima. Karena hingga detik ini aku masih menyayanginya. Tidak berkurang sedikitpun.
Ada rasa ragu dihatiku. Ada rasa bimbang pula yang menyertainya. Apakah saat itu dia benar-benar menunjukkan apa yang ada dihatinya. Jika iya, mengapa dia meninggalkanku? Mengapa dia tidak mencoba menghubungiku hanya untuk beberapa menit saja? Namun jika tidak, mengapa saat itu dia melakukannya? Mengapa dia memberikanku kesempatan untuk masuk dalam hidupnya? Hingga kini masih ku cari jawaban itu. Sekalipun aku tahu, dirimu tak akan pernah menoleh kebelakang dan hadir kembali dalam hidupku hanya untuk menjelaskan semua itu.
Let’s aroud the world together
December 29, 2008
Wow…Ternyata perjalananku yang cukup singkat diberbagai daerah ini, mulai dari Banjarmasin, Batu Licin, Kota Baru, sekarang di Balikpapan, buat aku lebih membuka mata lagi dan menyadarkan diri kalo Tuhan tuh memberikan keindahan masing-masing disetiap tempat. Keindahan yang harus kita jaga. Ga cuma itu aja, aku belajar banyak hal tentang sesuatu yang aku belom pernah tahu selama ini. Daerah geografis, sosial, ekonomi pokoknya banyak deh. Ga sia-sia aku ngelakuin perjalanan ini.
Aku bertekad kelak suatu saat nanti akan tiba waktunya aku akan mengelilingi Indonesia. Mempelajari berbagai hal yang ada disetiap daerah. Dan jika saat itu tiba juga, aku pengen keliling dunia. Entah kapan. Kita tunggu aja tanggal mainnya
…..
Kecupan Hangat
November 20, 2008
Pagi begitu cerah. Matahari tersenyum mesra. Suasana masih tenang. Dan burung-burung berkejaran sambil bersiulan.
Hari itu adalah hari special bagi seseorang yang spesial juga bagiku. Disaat orang-orang masih meringkuk di tempat tidurnya, aku cepat-cepat beranjak dari tempat tidur dan menyiapkan semua barang yang telah ku persiapkan malam harinya. Setelah itu aku bergegas pergi kerumahnya sambil membawa sebuah kado dan kue ulang tahun yang aku siapkan khusus untuknya. Memang, pagi itu aku sedikit terlambat dari jadwal yang ku rencanakan. Namun itu tak akan menghambat sedikitpun niatku untuk memberikan kejutan dihari ulang tahunnnya. Sekalipun aku harus membawa kado dan kue tersebut sambil mengendarai motorku seorang diri.
Sengaja aku berhenti tidak didepan rumahnya. Karena aku berencana untuk memberikan kado special itu dengan bantuan orang lain. Kebetulan saja didekat rumahnya ada seorang pak becak yang sedang menunggu penumpang untuk menarik becaknya. Tanpa ragu, langsung saja aku dekati pak becak itu.
“Permisi Pak, saya boleh minta tolong?” tanyaku didekat becaknya.
“Minta tolong apa mbak? Kalau saya mampu, pasti akan saya bantu”,jawab pak becak.
Tanpa ragu lagi aku mengutarakan maksud dan tujuanku.
“Hari ini teman saya berulang tahun. Saya ingin memberikan kadonya melalui bapak. Apa bapak keberatan jika saya meminta tolong kepada bapak untuk menyampaikannya?” tanyaku penuh harap.
“Oh ya. Saya tidak keberatan. Dimana rumah yang dimaksud oleh mbak?” tanya pak becak.
“Rumah bernomor dua puluh dua. Yang mempunyai pintu berwarna hijau”, jawabku sambil menunjuk rumah yang ku maksud.
“Bilang saja kado ini untuk seseorang yang berulang tahun di rumah tersebut. Dan jangan bilang kalau kado ini dari saya yang akan menunggu bapak disini hingga kembali”, terusku.
Dengan sigap bapak itu mengambil kado yang ku ulungkan kepadanya dan membawanya ke rumah yang ku tunjukkan sebelumnya. Saat itu aku merasa bahwa Tuhan seakan membantuku untuk melancarkan rencana yang telah ku buat. Dengan sembunyi-sembunyi aku melihat aksi pak becak itu dari kejauhan. Berharap pak becak itu tidak melupakan pesan yang telah ku sampaikan padanya.
Sepuluh menit telah berlalu. Aku melihat pintu rumah itu telah tertutup dan pak becak itu sedang berjalan menuju ke arahku.
“Mbak, kadonya sudah saya sampaikan”, ucap pak becak.
“Terimakasih pak sudah membantu saya”, jawabku sambil menyerahkan uang yang telah ku persiapkan sebelumnya sebagai tanda terimakasihku.
Beberapa menit kemudian aku berjalan menuju rumahnya. Sesampai didepan rumahnya aku menyiapkan kue ulang tahun beserta lilin yang akan ku pasang diatasnya. Setelah ku pasangkan lilin itu yang menunjukkan angka dua dan tujuh, aku menyalakannya dengan sebatang korek api. Angin yang begitu kencang di pagi itu, membuatku harus berusaha menutupi dari segala arah agar api tersebut tidak padam.
Dengan hati-hati aku membawa kue itu dan mengetok pintu rumahnya. Pintu perlahan dibuka oleh penghuninya. Perlahan-lahan pula aku melihat ada seseorang yang ku kenal dibalik pintu itu.
“Happy Birthday to you…Happy Birthday to you…”, aku langsung menyanyikan lagu itu ketika ku melihat dia benar-benar membukakan pintu untukku.
Lagu itu berhenti ku nyanyikan setelah dia mempersilahkan diriku masuk dan aku menyuruhnya untuk meniup lilin yang sebelum meniupnya dia harus membuat pengharapan. Atau orang-orang lebih suka menyebutnya make a wish.
Waktu itu aku melihat senyuman yang begitu bahagia darinya. Senyuman terindah yang baru sekali itu aku lihat selama aku mengenalnya. Aku begitu menyayanginya. Aku begitu mencintainya. Hingga aku pun akan melakukan yang terbaik untuknya hingga membuatnya bahagia.
Setelah lilin itu mati, aku langsung memeluknya sambil mengucapkan serangkaian kata penuh makna dan doa untuknya. Hingga aku berhenti mengungkapkan semua, dia mempersilahkanku untuk duduk dikursi ruang tamunya dan dia bergegas mengambil dua buah piring untuk potongan kue yang nanti akan kami nikmati bersama. Lalu dia turut duduk disebelahku.
“Makasi ya buat semuanya”, kata itu yang keluar dari mulutnya dan mengawali pembicaraan kita di pagi itu.
Kata-kata itu hanya ku balas dengan senyuman yang tidak ku sadari telah mengembang di wajahku. Sambil mengiris kue yang berisikan tiramisu kesukaannya dan melahapnya, kami berbincang-bincang panjang lebar. Dia juga mempertanyakan mengapa tadi sebelum aku mengetuk pintu rumahnya, ada peran pak becak yang mengantarkan kado untuknya. Kami bercengkrama begitu asyiknya. Hingga kami menyadari bahwa kue yang tadi aku bawa telah habis dan tidak menyadari akan waktu yang telah bergerak cepat menuntut kami untuk melakukan aktifitas seperti biasanya.
Dia beranjak dari tempat duduknya lalu menyiapkan diri untuk berangkat bekerja. Dan aku akan tetap menunggunya hingga dia selesai menyiapkan semuanya dan turut menghantarkannya berangkat ke tempatnya ia bekerja.
Dia keluar dari kamarnya dengan penampilan yang begitu rapi. Kemeja dimasukkan kedalam celana kain dan ikat pinggang yang dia gunakan , lengan baju yang dilipat hingga ke siku, rambutnya yang ditata rapi namun masih terkesan acak-acakan, dengan aroma tubuhnya yang sudah familiar tercium olehku dan tentunya dengan jenggotnya yang terlihat sedang tumbuh di janggutnya. Ya, itulah gambaran tentang dia yang membuatku tertarik padanya.
Kami berdua telah siap keluar dari pintu rumahnya. Namun sebelum kami menapakkan kaki keluar pintu, dia menarikku. Tiba-tiba dia memelukku dengan erat. Erat. Dan semakin erat. Pelukan itu terasa hangat. Dan aku merasa aman bila berada dipelukannya. Dengan lembut dia mengucapkan sesuatu ditelingaku.
“Makasi ya. Aku sayang sama kamu”, kata itu terasa membawa kedamaian tersendiri untukku.
Aku hanya bisa mengganguk didalam dekapannya. Dan aku yakin dia juga dapat merasakan itu. Setelah itu perlahan-lahan dia mengecupkan bibirnya di keningku. Ciuman itu terasa hangat. Aku dapat merasakan ciumannya yang penuh dengan kasih sayang. Yang dia berikan padaku saat itu dan sebelum-sebelumnya.
Walaupun sebelumnya dia sering dan selalu mengecup keningku sebelum berpisah, tapi aku merasakan kecupan hangat di kening yang dia berikan saat itu berbeda. Kecupan itu berlangsung cukup lama. Dan aku merasa sepertinya dia akan pergi. Pergi. Meninggalkan ku sendiri.
Setelah itu kami merasa lebih mantab untuk menjani hari-hari kami dan kami berangkat ke tujuan masing-masing.
Keesokan harinya, aku mendapati seolah-olah apa yang aku rasakan terakhir sebelum kami berpisah menjadi kenyataan. Dia pergi. Pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku ketahui dan tempat yang tidak dia beritahukan kepadaku sebelumnya. Air mata ini hanya bisa mengalir dan menetes dari pipiku setelah aku menyadari bahwa dia telah pergi.
Semua memang terasa berat. Andai aku bisa memilih, aku tidak akan mengambil jalan ini. Jalan yang mengharuskan dia pergi dari hidupku. Namun bagaimanapun, dia adalah yang terindah. Yang pernah singgah dalam hidupku. Aku harus merelakannya pergi. Karena, seperti apa yang telah ku ucapkan sebelumnya, aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatnya bahagia. Dan hanya dengan merelakannya lah yang bisa membuatnya bahagia.
Sekalipun dia telah pergi, namun aku merasa kecupan hangat itu masih bisa ku rasakan di kening ini. Dan kecupan hangat itu masih ada dan melekat di raga ini. Sampai kapanpun kecupan hangat itu akan menjadi yang terindah dari seseorang yang terindah.